Home Tentang Kami Komtribusi Komspiratif Instagram Our Videos
image1 image2 image3

WELCOME TO 'CHANNEL11.COMM'|HIMANIKA BERSAMA|'FISIP - UNIVERSITAS BRAWIJAYA'

WISNU NUGROHO: MODAL JURNALIS HARUS SKEPTIS


Sabtu 23 Mei 2015 lalu giliran Universitas Brawijaya yang dikunjungi Kompas dalam rangka Kompas Saba Kampus 2015. Bukan hanya mahasiswa Universitas Brawijaya yang antusias, mahasiswa dari universitas-universitas di Malang lainnya juga mendaftar di acara yang diadakan di gedung Widyaloka ini. Kegiatan tersebut bertujuan mengenal newsroom Kompas sekaligus untuk mendengar pandangan dan masukan dari mahasiswa terkait dengan bisnis media dan perkembangan isu lainnya.
                
Dalam rangkaian acara tersebut diadakan pula kelas paralel, salah satunya adalah kelas jurnalistik yang dipandu oleh editor Kompas, Wisnu Nugroho. Kelas ini berjalan dengan seru lantaran di awal acara Wisnu berjanji tidak akan membuat peserta mengantuk. Dari awal Wisnu membuat kita terperangah dan terus penasaran dengan gambar-gambar yang dia tampilkan di layar LCD. Ternyata Wisnu memiliki maksud terselubung, gambar-gambar tersebut memiliki benang merah yang akan membawa kita pada kesimpulan tentang apa saja modal yang harus dimiliki seorang jurnalis.
                
Wisnu mengatakan bahwa ragu-ragu atau skeptis adalah modal utama yang harus dimiliki seorang jurnalis. Pengalamannya dulu ketika didaulat sebagai wartawan istana membuatnya menjadi wartawan yang suka ngepoin apa yang terjadi namun sering tak terkuak di istana kepresidenan. Ia bekerja sebagai wartawan istana pada saat SBY masih menjabat sebagai presiden RI saat itu. Keskeptisannya membawa banyak bahan berita untuk Kompas. Ia mengaku bisa sangat skeptis dan jeli pada saat memperhatikan hal-hal kecil disekitarnya. Contohnya saja ketika ia skeptis terhadap tas ibu menteri pada saat menghadiri rapat. Tas tersebut adalah tas keluaran brand luar negeri, padahal kala itu SBY sedang gencar-gencarnya mengkampanyekan gerakan cinta produk dalam negeri.
             
Wisnu melanjutkan, sikap skeptis akan membawa seorang jurnalis mau tidak mau memverifikasi fakta dibalik sebuah fenomena yang ia tangkap, seperti halnya ketika melihat tas ibu menteri tersebut, ia tidak hanya berhenti sampai disitu. Wisnu sampai mendatangi toko yang menjual tas tersebut dan dibuat malu karena ia hanya penasaran ingin memastikan harga tas tersebut yang selangit tanpa membelinya. Namun ia puas karena bisa mendapatkan fakta yang dapat memperkuat berita yang akan dia tulis. Tidak hanya itu, berita juga harus diperkuat dengan konten tentunya, tambah Wisnu.
                
Selain menulis berita untuk dimuat di Kompas, Wisnu juga seorang blogger yang aktif. “Saya menulis di blog karena saya ingin menulis yang tidak penting untuk menjadikan tulisan saya yang penting tetap penting.” begitulah moto yang ia ucapkan. Ia bertanya pada peserta, siapa saja yang aktif menulis di blog, dan tidak sedikit yang mengacungkan jari, ia pun bahagia melihatnya. Menurut Wisnu, blog adalah media yang baik untuk mempublish tulisan. Karena tulisan yang ia publish di blog pribadinya jugalah ia kerap dihubungi banyak penerbit yang berniat membukukan tulisannya di blog. Alhasil 3 buku karyanya berhasil diterbitkan, Yaitu Trilogi Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Keluarganya, Pak Beye dan Pak Kallanya,dan yang terbaru adalah Istana Bla Bla Bla.

Wisnu lalu memberikan tips menulis di blog pada peserta. Menurutnya tulisan yang efektif di blog adalah berkisar dari 400-500 kata. Kita harus memperhatikan kecenderungan manusia memperhatikan kata-kata secara penuh seperti ‘F model’, semakin kebawah semakin turun perhatiannya. Tips ke dua, sebelum menulis kita harus membayangkan pembaca kita. Hal itu dapat membantu kita mensegmentasi pembaca yang kita inginkan untuk membaca tulisan kita. Wisnu sering membayangkan pembacanya adalah orang-orang dewasa muda perkotaan yang smart dan tahu sedikit-sedikit tentang politik, seperti Dian Sastro. Katanya jika ia membayangkan Dian Sastro yang cantik itu membaca tulisannya, ia akan langsung semangat menulis, kontan seluruh peserta tertawa mendengarnya. Terakhir, Wisnu menekankan prinsip utama yang ia miliki untuk menulis, “Menulislah untuk pembaca, bukan untuk bos, atau ego kita.” (AGT)

Share this:

CONVERSATION

0 Comments:

Post a Comment