image1 image2 image3

WELCOME TO 'CHANNEL11.COMM'|HIMANIKA BERSAMA|'FISIP - UNIVERSITAS BRAWIJAYA'

Cerita Mistis Gadis di Siang Bolong


Hari itu terasa menyebalkan bagi Rio. Tugas yang semalaman susah-payah ia kerjakan ternyata dianggap salah oleh dosen sehingga perlu revisi. Ditambah lagi baju kotor di kos yang menumpuk belum tersentuh sama sekali sejak sebulan lalu, bahkan saldo di ATM yang semakin dekat ke angka Rp 0., membuatnya pusing tujuh keliling. Jauh dari orangtua membuatnya harus benar-benar mandiri menghadapi dinamika kehidupan kampus.
Sengatan matahari di siang hari itu semakin membuat Rio ingin meledak. Dengan tergesa-gesa dia berjalan menuju jalan raya, tempat pemberhentian sementara jemputan kesayangannya. Mikrolet. Semilir angin di tengah perjalanan membuatnya reflek menoleh ke rumah bernuansa putih di sebelah kanan jalan. Pasti rumah itu bangunan Belanda’, bisiknya dalam hati. Dia mengamati interior luar rumah tersebut yang memiliki jendela berbentuk besar, lantai bermotif lawas, dan halaman hijau luas di depannya yang ditumbuhi ilalang tinggi-tinggi.
“Ssshhh ” Angin kencang berhembus ketika dia berhenti mengamati seorang gadis berpakaian serba hitam dari atas hingga ujung kaki yang sedang bersantai di depan rumah. Aduh ngapain sih jadi salah fokus liatin cewek dan rumah serem itu, aku kan pengen buru-buru tidur’, batin Rio sambil memukul kepalanya perlahan dan bergegas melanjutkan perjalanannya menemukan bapak-bapak sopir mikrolet.
Ternyata penumpang angkutan umum hari itu sedang sepi. Rio dengan mudah bisa mendapatkan mikrolet yang lengang untuk menuju kosnya. Duduk di bangku tepat belakang sopir, membuatnya bisa menikmati pemandangan di sepanjang jalan.
Sebelum meninggalkan lampu merah pertama yang terletak di jalan Mawar, Rio kembali melihat gadis di rumah peninggalan Belanda tadi. Dia berdiri di ujung jalan dan melambaikan tangan, mencoba untuk mencegat mikrolet yang Rio naiki.
Mikrolet ini berjalan begitu lambat, sehingga membuat Rio bisa mengamati detail gadis berhawa misterius itu. Gadis itu berambut panjang lurus melewati bahu dan memiliki poni yang menutupi mata kirinya, mengenakan dress selutut berwarna hitam polos, tas selempang dan sepatu hitam, juga menenteng payung hitam. Rio keheranan melihat dandanan gadis itu serta tingkah bapak sopir yang tak segera memberhentikan mikrolet agar gadis itu bisa naik. Mikrolet terus melaju seolah tak menghiraukan lambaian gadis itu.
Beberapa meter dari situ, terdapat segerombolan anak SMA yang juga ingin memberhentikan angkutN ini. Anehnya, kali ini sang sopir mikrolet langsung berhenti tepat di depan mereka. Melalui kaca belakang mikrolet, Rio masih bisa menyaksikan gadis misterius tadi. Namun, gadis itu tidak segera berlari atau berjalan menuju mikrolet ini, padahal dia tadi melambaikan tangannya.
Mikrolet pun melanjutkan perjalanannya membelah kota. Jarak antara kos Rio dengan kampus memang cukup jauh. Diperlukan waktu sekitar satu jam untuk pulang-pergi dari kos ke kampus, begitu pula sebaliknya. Setelah melewati jalan Mayjend Panjaitan, mikrolet menuju arah dekat jalan Veteran. Mikrolet berhenti lagi karena mendapatkan penumpang sepasang kekasih di ujung jalan.
Sebelum mikrolet sampai di ujung jalan, tempat sepasang kekasih yang juga ingin naik mikrolet itu berada, ternyata ia melihat sosok yang mulai tak asing di matanya.  Lagi-lagi sedang melambaikan tangannya. Sosok itu terlihat pucat pasi dan tersenyum ke arah Rio. Ya ampun … itu kan gadis yang tadi,’ pikirnya heran.
Sontak, Rio memberhentikan mikrolet. Dia terlalu penasaran dengan gadis tersebut. Bagaimana dia dengan tatapan kosong duduk sendirian di rumah Belanda yang begitu besar dan seram, bagaimana dia hanya berdiri di pinggir jalan sambil melambai tangan tanpa berlari mengejar ketika mikrolet tak berhenti tepat di depannya, bagaimana di siang hari yang terik dia justru memakai pakaian serba hitam bahkan membawa payung berwarna hitam, dan bagaimana-bagaimana yang lain yang bermunculan di kepala Rio. Dia tak ingin menambah pikiran dan beban hidup karena penasaran dengan gadis yang satu ini.
Usai turun dan membayar, Rio langsung membalikkan badannya mencari gadis itu. Tapi gadis itu menghilang. Diedarkannya pandangan ke seluruh penjuru jalan Veteran, namun gadis itu tak kunjung dia temukan. Rio juga mencoba menanyakan keberadaan gadis itu pada orang di sekitar.

Tiba-tiba dia melihat bapak tukang bakso keliling berdiri tepat di depan Rio dan memegang pundaknya.“Nak, makhluk halus itu tidak hanya menampakkan wujudnya pada malam hari saja, ia juga bisa keluar pada siang hari. Jangan lupa banyak berdoa dimanapun dan kapanpun kamu berada ya,” Pesan sang bapak. Rio hanya bisa linglung dibuatnya. “Mari, Nak … Bapak permisi dulu,” Pamit bapak tukang bakso. Lagi-lagi, Rio hanya bisa melemparkan pandangan ke sekeliling. Tak ditemuinya lagi gadis berpakaian serba hitam yang misterius itu. (arn & nzl)

Share this:

CONVERSATION

0 Comments:

Post a Comment