image1 image2 image3

WELCOME TO 'CHANNEL11.COMM'|HIMANIKA BERSAMA|'FISIP - UNIVERSITAS BRAWIJAYA'

Karena Berpisah Bukan Berarti Berakhir


Namaku Tara, seorang mahasiswa semester akhir yang sedang sibuk dengan tugas akhirnya. Seorang mahasiswa prantauan di kota orang. Hidup sendiri tanpa ada sanak ataupun saudara. Aku hanya mempunyai beberapa sahabat yang setia menemaniku sejak pertama kali aku mengenal kota ini.
Menjadi mahasiswa tingkat akhir bukanlah perkara yang mudah, mungkin terlihat santai karena tidak disibukkan dengan jadwal kuliah atau tugas-tugas dari dosen, namun cukup dipusingkan dengan tugas akhir yang tak kunjung selesai. Hampir setiap hari aku tetap ke pergi kampus, entah bertemu dosen pembimbing atau sekedar ke perpustakaan mencari beberapa informasi.
Entah sudah berapa banyak kertas yang kubuang akibat coretan untuk keperluan revisi. Entah sudah berapa banyak kopi yang ku minum agar kuat menahan kantuk di malam hari untuk menyelesaikan tugas ini. Entah sudah berapa banyak kata ‘capek’ yang kukeluarkan ketika aku ingin menyerah. Namun, saat kata itu terucap hanya wajah orang tuaku lah yang ku ingat, karena ku tahu mereka tidak pernah mengeluh untuk terus memperjuangkanku.
Pagi itu aku kembali menemui Pak Rizki. Seperti biasa aku berkonsultasi tentang tugas akhirku. Sampai pada akhirnya Pak Rizki berkata, “Tara, saya rasa penelitian kamu sudah cukup. Saya mau kamu maju untuk ujian skripsi.” Mendengar perkataannya, dadaku terasa sesak. Seakan tak percaya jika sudah saatnya aku mempertanggungjawabkan tugas akhirku. Aku harus siap. Harus.
Langit terlihat biru cerah, dihiasi sinar matahari yang muncul malu-malu. Tanpa ragu ku langkahkan kakiku ke luar rumah. Memakai rok hitam dan kemeja putih bersih dihiasi dengan jas almamater kebanggaan. Ku gendong tas ransel biru berisi laptop dan beberapa buku, aku pun berjalan menuju kampus oren. Ya ... FISIP.
Hari ini adalah hari dimana penentuan dari perjuanganku selama empat tahun. Tentu saja  hari ini merupakan hari dimana skripsiku diuji. Sambil duduk menunggu dosen penguji datang, aku melamun. Memori otakku berputar kembali ke masa lalu, saat empat tahun yang lalu. Saat untuk pertama kalinya aku menginjakkan kakiku ke kota ini, saat pertama kalinya aku menggunakan jas almamater ini dengan bangga, saat aku tahu kalau aku resmi menjadi seorang mahasiswa baru. Teringat olehku semua kajadian yang dulu ku alami. Berkenalan dengan teman baru, kuliah perdana, masa orientasi, dan entah berapa banyak momen yang sudah ku lewati hingga sekarang.
“Tara, sudah siap?” Ucap dosen pembimbingku mengagetkan lamunanku. “Sudah pak!” Jawabku dengan mantap. Sempat terpikirkan ‘kemana sahabat-sahabatku?’ Mereka tak datang ketika aku membutuhkan dukungan. Ah ... mungkin mereka sedang sibuk. Bukan hanya aku yang sedang berambisi menyelesaikan tanggung jawab ini.
Di dalam ruangan aku ditemani oleh Pak Rizki, dosen pembimbingku yang setia dan tidak pernah bosan menuntunku untuk menyelesaikan tugas akhir ini, dan dua orang dosen penguji. Dengan membaca bismillah aku memulai presentasi tentang penelitianku. Tanpa ragu ku jawab semua pertanyaan yang dilayangkan dari mereka. Sedikit grogi, namun kepedeanku mengalahkan semuanya. Aku yakin penelitianku pasti berhasil.
Kulihat ketiga dosen yang duduk di hadapanku berdiskusi kecil. Mereka menyuruhku keluar meninggalkan ruangan sebentar. Aku menunggu dengan gelisah, jantungku berdegup tak karuan menanti apa yang akan terjadi selanjutnya.
Setelah lima belas menit menunggu di luar, aku pun dipanggil kembali ke dalam ruangan sidang. Aku berdiri di depan ketiga dosenku. Berusaha tersenyum manis menghilangkan kegelisahanku.   
“Baik Tara, kami sepakat jika kamu lulus ujian ini,” Ucap salah satu dosen pengujiku. Aku mencerna kembali kata-kata yang dia ucapkan. ‘Kami sepakat jika kamu lulus ujian ini’? Tak salah dengar kah aku? Aku lulus?
Air mata haru menetes dari pelupuk mataku. Sambil tersenyum aku menghapus air mataku dan menyalami kedua dosen penguji dan dosen pembimbingku. Aku benar-benar tak percaya jika aku lulus. Kurapihkan laptop dan perlengkapan lain ke dalam tas ranselku. Aku pun beranjak keluar ruangan ujian.
“Tara! Selamat ya udah jadi sarjana ilmu komunikasi!” Sahabat-sahabatku muncul entah dari mana datangnya dan langsung memelukku. Memberiku beberapa buket bunga, mahkota bahkan selempangan yang bertuliskan ‘S. I.Kom’. Aku speechless, tak bisa berkata-kata. Hanya mampu menangis. Menangis karena terlalu senang.
Setelah puas berfoto-foto dan berbincang mengenai ujian tadi, aku pulang kembali ke kost-an. Langkahku kembali terasa ringan mengingat salah satu tanggung jawabku selama empat tahun terakhir sudah selesai. Sambil menyusuri jalan, aku kembali mengingat bagaimana aku mengenal tempat ini. Tempat yang sudah tak asing buatku layaknya rumah sendiri. Tak terasa sebentar lagi aku akan meninggalkan tempat ini, kota ini, dan semua kehidupan di sini. Aku akan kembali ke kampung halamanku. Berpisah dengan sahabat-sahabatku di sini dan memulai kehidupan baru di sana. Berpisah, namun tidak benar-benar berpisah. Tak terbayang bagaimana nanti aku mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Aku tahu tentu berat rasanya, namun itu harus.
Kita semua kelak akan berpisah, termasuk dengan orang-orang yang kita sayangi sekalipun. Namun itu yang membuat kita semakin matang untuk menjadi orang yang bijaksana. Dimana ada awal, pasti akan ada akhir. Tergantung bagaimana kita menghadapinya.

Berpisah itu sama sulitnya dengan memulai. Harus beradaptasi, harus menerima dan harus mengerti makna dari perpisahan itu. Aku percaya jika perpisahan selalu hanya sebagian kecil dari rencana Tuhan. Karena kelak akan ada rencana yang jauh lebih baik dan tak terduga setelahnya. (zrn)

Share this:

CONVERSATION

0 Comments:

Post a Comment