image1 image2 image3

WELCOME TO 'CHANNEL11.COMM'|HIMANIKA BERSAMA|'FISIP - UNIVERSITAS BRAWIJAYA'

Kotasentris: Berkubu yang Rawan Menjadi Sumbu


Terkota(k)-kota(k), berkubu-kubu, atau apapun istilahnya. Itulah yang saya rasakan selama hampir satu semester menjajaki dunia perkuliahan di Universitas Brawijaya, terutama di fakultas saya sendiri. Saya merasa ada sekat tak kasat mata yang terjalin di antara teman-teman saya. Saya merasakan adanya eksklusivitas dan pembedaan yang didasari oleh perbedaan asal daerah. Apakah kalian juga merasakan hal yang sama?
***
Dunia kampus memang beragam, mahasiswanya pun beragam. Teman sepermainan, tempat kongkow, bahkan obrolannya pun beragam. Meskipun begitu, mahasiswa yang tampaknya dekat dengan pluralitas serta keberagaman ternyata cenderung memilih lingkup sebuah kelompok yang sama. Dalam hal ini misalnya sama pikirian, sama obrolan, dan umumnya juga sama kota (asal domisili). Kondisi ini berawal dari hal yang sebenarnya sederhana, umumnya karena kesamaan dialek bahasa.
Ketidaksempurnaan dalam beradaptasi juga menjadi faktor yang dominan dalam fenomena ini. Bagi mereka yang terlalu lama berdiam di suatu tempat (dalam hal ini kota kelahirannya), dari kecil hingga dewasa, mungkin akan sangat susah dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hingga budaya baru. Salah satunya dalam lingkup dunia kampus yang kebanyakan mahasiswanya berasal dari berbagai wilayah.
Contoh kasus yang paling jelas terlihat sebenarnya selalu sama tiap tahunnya, yaitu antara pihak ibukota (I) dengan pihak penduduk asli (A). Kebingungan saya memunculkan satu pertanyaan: bukankah ibukota juga terletak di Pulau Jawa? Lalu apa yang membuat suatu batasan dari pergaulan ini? Dialek bahasa.
Pihak A menganggap dialek pihak I terlalu kasar, sebaliknya pihak I menganggap dialek pihak A terlalu aneh, begitu seterusnya dari tahun ke tahun. Kecenderungan pihak I dalam bergaul pada teman sesama daerahnya dengan menggunakan sapaan ‘gue-elo’, dinilai kurang cocok dengan kultur pihak A yang biasa menggunakan sapaan ‘aku-kamu’ dalam kesehariannya.
Pertanyaannya: masalahnya apakah satu pihak tidak ingin beradaptasi dengan kultur baru, atau mungkin pihak lain malah terlalu memaksakan kultur yang ada terhadap para pedatang?
Sebenarnya ada beberapa orang yang kerap berusaha mencairkan suasana ketika sedang mengobrol. Awalnya tak ada masalah, tetapi kemudian beberapa kata yang bernada ‘candaan’ dari satu pihak malah membuat pihak lainnya merasa tersinggung. Tak ada maksud buruk dari pihak yang melontarkan ‘candaan’ tersebut, tapi di lain pihak kata-kata seperti itu bernada merendahkan. Perbedaan ‘guyonan’ seperti ini juga yang menjadi hal besar dalam pembentukan sekat antar pihak ini.
Dalam sudut pandang lain, hal ini sebenarnya wajar-wajar saja ketika beberapa orang lebih ‘nyambung’ ngobrol dengan mereka yang berasal dari daerah yang sama. Tetapi saat perbedaan ini berubah menjadi penyulut api kesalahapahaman antar pihak, hal ini lah yang sangat disayangkan.

Toleransi yang diajarkan oleh bu guru hingga pak ustadz dulu seakan terlupakan. Kini orang lebih suka membanding-bandingkan satu hal dengan lainnya tanpa mau berfikir bijak sama sekali. Statement hingga stereotype baru yang merugikan bisa menciptakan potensi konflik. Sebaiknya setiap pihak dapat menerima sesuatu yang baru dan bertoleransi dalam keberagaman, terutama dalam menyikapi perbedaan budaya. Lestarikan sikap toleransi. Dengan begitu, maka keterbukaan, kebersamaan, hingga sikap saling menyayangi antarsesama manusia tentu akan tumbuh. Perbedaan nantinya tidak akan menjadikan sekat, tetapi menjadi pengetahuan tersendiri akan hal baru yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya.

Bukankah indah saat sesama manusia dapat berkumpul bersama? Atau apakah kita hanya akan peduli ketika ras manusia hanya tinggal beberapa ribu saja? Jawabannya kembali ke diri masing-masing.               Jika saja keberagaman hal dapat dinikmati, tentu takkan ada sumbu penyulut api. (zki)

Share this:

CONVERSATION

0 Comments:

Post a Comment