Home Tentang Kami Berita Feature Komtribusi Komspiratif E-Bulletin Advo Info Instagram Our Videos
image1 image2 image3

SELAMAT DATANG DI CHANNEL11.COMM|LAMAN RESMI HIMANIKA UNIVERSITAS BRAWIJAYA|KABINET KOLABORASI

Dilema Keamanan FISIP: Sekadar Tulisan Atau Realita?



MALANG, Channel11.COMM – Keamanan tentunya merupakan kebutuhan bagi setiap insan. Sebagai institusi pendidikan yang merupakan sarana umum, kampus sudah seharusnya menjadi tempat yang aman dan menjamin rasa aman itu bagi setiap mahasiswanya. Bentuk penjaminan ini dapat berupa regulasi serta kebijakan yang dibuat oleh pihak yang berwenang. Namun, dalam pelaksanaannya, masih banyak hal yang tidak selaras dengan ketentuan yang ada.  Pelanggaran yang dilakukan baik dari pihak internal maupun eksternal tak dapat terhindarkan, begitupun yang terjadi di Universitas Brawijaya, tepatnya di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP).

Tamu Berbaju Biru

Sebagai sebuah institusi pendidikan, tentu saja tamu akan lalu lalang di area FISIP UB dengan tujuan yang berbeda. Normalnya, akan ada mahasiswa,  dosen, dan beberapa karyawan yang akan memenuhi tempat menimba ilmu tersebut. Namun tak dapat dipungkiri pengunjung tak diundang akan turut meramaikan wilayah FISIP, seperti pedagang makanan dan sosok misterius pria yang seringkali menggunakan polo shirt biru terang. Pria dengan polo shirt biru terang itu seringkali didapati sedang duduk santai, bahkan tertidur di area FISIP. Kehadirannya cukup menjadi pertanyaan besar bagi warga FISIP, bagaimana seorang asing bisa bebas keluar masuk wilayah pendidikan?

Pria berperawakan besar tersebut mengaku bernama Ronald dan merupakan lulusan Teknik Elektro UB tahun 1993. Pria asal Surabaya itu mengaku alasannya memilih untuk pindah ke Malang adalah karena beliau menjadi korban operasi senyap di Surabaya, dengan begitu ia menjadikan UB sebagai sarana menetap sementara. Selama operasi senyap tersebut, beliau berasumsi bahwa ia tidak lagi dapat menjalani kehidupan normalnya seperti bekerja. Semua bermula dari kecurigaannya terhadap seorang petinggi salah satu gereja di Surabaya. Ia menemukan adanya penyalahgunaan kekuasaan demi keuntungan pribadi. Ronald berusaha untuk melaporkan hal ini ke pihak berwajib. Namun, sebelum laporan dilayangkan, petinggi gereja terlebih dahulu mengetahui hal tersebut, sehingga Ronald menjadi target operasi senyap. Kehadirannya dianggap mengancam posisi serta eksistensi gereja tersebut. Ditambah lagi, keluarga tidak menerima dirinya, karena diduga telah bekerjasama dengan pihak gereja.

Ronald lantas menggantungkan hidupnya dengan berpindah dari tempat asalnya. Ia memilih kota Malang sebagai tempat persinggahannya dan menetap hingga saat ini. Ia menghabiskan lebih banyak waktunya di FISIP UB. Menurut pantauan Channel11.COMM, pria berumur 43 tahun itu kerap muncul dalam acara-acara yang diselenggarakan oleh mahasiswa FISIP UB, salah satunya saat acara Persembahan Communite 2018 yang bernama Meksiko. Saat berlangsungnya acara tersebut, ia terlihat turut meramaikan acara tersebut. Namun, dalam kehadirannya memberikan rasa ketidaknyamanan bagi beberapa kalangan yang hadir pada acara tersebut. “Sebenernya aku pribadi ga keganggu dengan kehadirannya sehari-hari di FISIP, aku mulai keganggu pas acara Meksiko. Rumornya, dia ngambilin makanan panitia.” Ucap Ghea, selaku Mahasiswa FISIP UB.

Menurut pernyataan pak Ronald, beliau sudah seringkali ditegur, bahkan sempat dibawa ke pihak yang berwenang yaitu ke unit tim keamanan UB yang kerap kita kenal dengan sebutan Mako. Ia juga mengaku sempat ditawari untuk diantar pulang ke Surabaya, namun menurutnya hingga saat ini belum ada tindak lanjut yang jelas. Menurut Humas FISIP UB, pihaknya telah berusaha untuk mengembalikan Ronald ke tempat asalnya dengan bantuan pihak keamanan FISIP, Mako, hingga Dinas Sosial Kota Malang. Namun, tanpa sebab yang diketahui, pria ini kembali muncul di lingkungan FISIP UB.
Tidak hanya sampai disitu, upaya yang dilakukan pihak FISIP sudah mencapai ranah personal. Pendekatan pribadi seperti upaya membantu menyelesaikan permasalahannya telah dilakukan. Namun, hasilnya nihil. “Kita sudah sempat memanggil pengacara untuk dilanjutkan ke ranah hukum, tetapi beliau tidak menganggapnya dengan serius.” Ujar Joni Prabowo, selaku karyawan bagian perlengkapan FISIP UB.

Berdagang di FISIP
Tidak hanya pengunjung tanpa tujuan, orang-orang yang bermaksud untuk mengais rezeki di FISIP UB, juga menjadi salah satu permasalahan. Himbauan secara tertulis telah tersebar di berbagai penjuru FISIP UB, atau bahkan wilayah Universitas Brawijaya. Namun, hanya sebatas kertas, himbauan inipun tidak diindahkan, ditambah lagi kurangnya ketegasan dari pihak keamanan kampus. Seiring berjalannya waktu, penjual di wilayah kampus menjadi hal yang lumrah bagi warga. Tidak menampik fakta bahwa kehadiran pedagang ini cukup membantu mahasiswa ataupun warga kampus lainnya untuk mendapatkan jajanan yang bervariasi. Tak jarang kehadiran mereka ditunggu oleh bayak orang. Interaksi yang mereka bangun juga mampu membuat kesan tersendiri. “Untuk pedagang, tidak begitu mengganggu mahasiswa, justru membuat mahasiswa yang bosan akan makanan kantin jadi merasa senang karena jajanan yang mereka temukan lebih bervariasi.” Terang Duitarama, selaku staf Humas FISIP UB. Sependapat dengan Duitarama, Muslim, koordinator keamanan FISIP UB, menuturkan bahwa kehadiran pedagang ini tidak membahayakan dan mereka cenderung mematuhi instruksi yang diberikan terkait regulasi berjualan di FISIP.

Kurangnya pengawasan menjadi salah satu kendala terbesar yang dihadapi. Jalur keluar masuk kampus yang terletak di berbagai titik tidak didukung dengan jumlah sumber daya manusia, sehingga  sering ‘kecolongan’. Diperlukan sinergi antarelemen keamanan mulai dari pihak fakultas hingga universitas untuk menanggulangi keberadaan pedagang asing tanpa izin ini. Pilihan lain mengoptimalkan sarana prasarana pengawas seperti kamera pengintai (CCTV) di berbagai wilayah.

Sering Kehilangan
Arus pengunjung yang sulit dikendalikan menimbulkan kecurigaan baru. Semakin lama, masyarakat FISIP semakin merasa tidak nyaman. Kehilangan sering kali terjadi. Kehilangan benda pribadi seperti dompet, benda elektronik, hingga kendaraan bermotor tak ayal membuat keamanan wilayah FISIP dipertanyakan.

Grace Nathania Putri Hutomo, mahasiswa Ilmu Komunikasi 2017 merupakan seorang korban percobaan pencurian. Grace menuturkan kendaraan bermotor miliknya pernah dicoba untuk dibawa lari oleh orang yang tidak dikenal. “Waktu itu lagi di FISIP, sekitar jam 8-an mau cabut (pergi, red) buat rapat. Terus pas aku masukin kunci motorku kok aneh rasanya, kayak nggak bisa klik, nggak bisa diputar. Tapi bisa buka jok motor. Aku panggil teman dan katanya itu dibobol. Ya udah kita lapor ke satpam,” jelasnya secara gamblang. Kejadian tersebut terjadi pada 28 September 2018. Perempuan ini tidak menyangka kejadian ini terjadi terlebih lagi menurutnya kondisi motor miliknya kurang layak.
Menanggapi kasus kehilangan motor tersebut, Hendra selaku salah satu juru parkir FISIP yang bertanggung jawab atas kehilangan harus menanggung konsekuensi. Ia serta juru parkir lainnya diharuskan menanggung biaya kehilangan motor sebesar 20% dari harga kendaraan yang hilang. Biaya ini ditarik dari pendapatannya per bulan. Lebih lanjut, pria ini mengaku harus tetap bertahan hidup dengan pendapatannya yang pas-pasan. Ditambah potongan, membuatnya semakin harus bisa mengatur keuangannya dengan baik agar mampu bertahan hidup. Permasalahan utama yang dihadapi adalah sumber daya manusia yang tidak seimbang dengan jumlah kendaraan yang harus diawasi. Apalagi ketika salah satu di antara mereka tidak bertugas karena sakit, satu orang lainnya harus mengawasi jumlah kendaraan yang semakin bertambah. “Jumlah kita terbatas. Kecuali dulu. Dulu kita kan delapan orang. Satu shift empat orang. Lah ini kan cuma dua orang, hilang separuh,” keluhnya. Terlebih lagi, Hendra menjelaskan perbedaan pandangannya terkait tugas juru parkir. Baginya, tugas utama mereka adalah untuk menata motor agar rapi dan cukup dengan wilayah yang tersedia, sedangkan urusan pengecekan STNK sudah seharusnya menjadi ranah petugas keamanan. Perbedaan ini yang masih dipertanyakan olehnya dan juru parkir lainnya.

Tidak hanya mahasiswa, dosen pun ikut menjadi korban kehilangan. Dewanto Putra, salah satu dosen Ilmu Komunikasi harus merelakan laptop miliknya diambil orang tidak bertanggung jawab. Ia menjelaskan bahwa kehilangan yang dialami terjadi saat ia pergi menunaikan ibadah. Saat itu, ia meletakan tas berisi laptop miliknya di belakang pilar dalam ruang dosen. Tempat tersebut aman baginya. Setelah sepuluh menit,  ia merasa ada yang ganjil dari tas laptopnya. Lalu ia memeriksanya, dan laptopnya telah raib. Kejadian tersebut segera dilaporkan kepada pihak keamanan fisip untuk ditindaklanjuti. “Langsung melihat CCTV, ternyata ada orang yang mencurigakan disitu, sebelum kejadian saya itu, dia berkeliling didepan kantor komunikasi, lalu 10 menit kemudian, tepat saat saya naik, dia keluar, dan tas dia saat keluar terlihat agak lebih berat daripada tas dia saat masuk.” Jelas Dewanto.

Pemasangan kamera pengintai (CCTV) di dalam ruang dosen tidak disetujui karena alasan privasi. Dosen menganggap perlu adanya ruang pribadi bagi mereka. Namun, dampak kehilangan barang  di dalam ruang dosen sulit diselesaikan tanpa adanya bukti langsung dari kamera pengintai. Pihak keamanan FISIP sendiri mengatakan terkait dengan kasus tersebut, kegiatan represif telah dilakukan seperti menyebar hasil rekaman yang tertangkap di cctv agar meningkatkan kepekaan sosial terhadap isu tersebut. Pelaku diduga juga sudah jarang berkeliaran di area kampus, namun tetap saja kesadaran akan kepemilikan barang pribadi lebih ditingkatkan lagi sehingga kasus kehilangan akan dapat diminimalisir, karena pihak keamanan pun tak dapat selalu mengawasi setiap saat dikarenakan kurangnya personil, yaitu hanya 2 orang. 

Keamanan FISIP semakin dipertanyakan. Apakah semua regulasi dan kebijakan hanya sekaedar di atas kertas putih atau sudah sewajibnya dijalankan? Tugas menjaga keamanan memang telah dikhusukan kepada petugas tertentu. Namun, sudah seharusnya seluruh elemen masyarakat FISIP ikut serta dalam menjamin keamanan. Lingkungan aman membuat nyaman dan tidak ada lagi rasa kecemasan bagi siapapun yang berkunjung dan beraktivitas di FISIP. [zir/vik/nad/hud/hmd]

Penyunting
Audrey Tiara Faddila
Athaya Nadjla Azzarieputri

Share this:

CONVERSATION

0 Comments:

Post a Comment